Sistem kontrol kendang ayam
1. Pendahuluan [Kembali]
2. Tujuan [Kembali]
- Membuat sistem kontrol kandang ayam otomatis menggunakan sensor inframerah dan sensor LDR.
- Menghitung jumlah ayam yang masuk dan keluar kandang secara digital menggunakan rangkaian counter.
- Mengontrol kondisi pencahayaan dalam kandang secara otomatis berdasarkan intensitas cahaya.
3. Alat dan Bahan [Kembali]
Bahan :
1. Sensor Infrared
Gambar Sensor IR
- Function: Decoder, Demultiplexer
- Technology Family: LS
- VCC (Min): 4.75V
- VCC (Max): 5.25V
- Channels: 1
- Voltage (Nom): 5V
- Max Frequency at normal Voltage: 35Mhz
- tpd at normal Voltage (Max): 100 nsec
- Configuration: 4:7
- Type: Open-Collector
- IOL (Max): 3.2mA
- IOH (Max): -0.05mA
- Rating: Catalog
- Operating temperature range (C): 0 to 70
- Bits (#): 7
- Digital input leakage (Max): 5uA
- ESD CDM (kV): 0.75
- ESD HBM (kV): 2
- Available in two modes Common Cathode (CC) and Common Anode (CA)
- Available in many different sizes like 9.14mm,14.20mm,20.40mm,38.10mm,57.0mm and 100mm (Commonly used/available size is 14.20mm)
- Available colours: White, Blue, Red, Yellow and Green (Res is commonly used)
- Low current operation
- Better, brighter and larger display than conventional LCD displays.
- Current consumption : 30mA / segment
- Peak current : 70mA
Sensor IR (Infrared Sensor)
Sensor IR (Infrared) adalah sensor yang bekerja dengan menggunakan sinar inframerah untuk mendeteksi keberadaan atau jarak suatu objek. Sensor ini banyak digunakan dalam berbagai sistem otomatisasi karena kemampuannya mendeteksi benda tanpa kontak langsung.
Sensor infrared (IR) merupakan komponen elektronik yang berfungsi untuk mendeteksi keberadaan suatu objek dengan memanfaatkan prinsip kerja pemantulan sinar inframerah. Sensor ini terdiri dari dua bagian utama, yaitu LED inframerah sebagai pemancar dan photodiode atau phototransistor sebagai penerima. Ketika tidak ada objek di depan sensor, sinar inframerah yang dipancarkan tidak akan mengenai penerima sehingga output sensor berada pada kondisi rendah (LOW). Sebaliknya, jika terdapat objek seperti ayam yang melintas di depan sensor, sinar inframerah akan dipantulkan kembali ke penerima dan menyebabkan output sensor berubah menjadi tinggi (HIGH). Perubahan tegangan inilah yang kemudian dijadikan sinyal digital untuk dikirim ke rangkaian berikutnya.
Dalam sistem kontrol kandang ayam, sensor IR berfungsi sebagai penghitung jumlah ayam yang masuk atau keluar kandang. Saat ayam melewati sensor, pancaran inframerah terhalang sehingga sensor menghasilkan sinyal logika yang diteruskan ke rangkaian counter. Counter kemudian menambah atau mengurangi hitungan sesuai arah pergerakan ayam, dan hasilnya ditampilkan pada display 7-segmen. Dengan demikian, peternak dapat mengetahui jumlah ayam di dalam kandang secara otomatis tanpa perlu menghitung secara manual. Selain sebagai penghitung, sensor IR juga dapat digunakan untuk mengaktifkan sistem lain seperti lampu otomatis atau pintu kandang. Cara kerja ini membuat sensor IR sangat bermanfaat dalam sistem otomatisasi karena mampu mendeteksi objek dengan cepat, akurat, dan tanpa kontak langsung.
Prinsip Kerja
Sensor IR terdiri dari dua komponen utama, yaitu:
-
LED Inframerah (IR Transmitter) – berfungsi memancarkan sinar inframerah yang tidak terlihat oleh mata manusia.
-
Fotodioda atau Fototransistor (IR Receiver) – berfungsi menerima pantulan sinar inframerah dari objek di depan sensor.
Prinsip kerjanya didasarkan pada pemantulan sinar inframerah:
-
Ketika tidak ada objek di depan sensor, sinar IR tidak akan terpantul ke penerima, sehingga sensor menghasilkan sinyal LOW (0).
-
Ketika ada objek di depan sensor, sinar IR akan dipantulkan kembali ke penerima, menyebabkan sensor menghasilkan sinyal HIGH (1).
Dengan demikian, perubahan kondisi pantulan sinar IR menjadi dasar dalam mendeteksi keberadaan, jarak, atau warna permukaan suatu benda.
Cara Menghasilkan Sinyal
Sensor IR menghasilkan sinyal digital (HIGH/LOW) atau sinyal analog, tergantung jenis sensornya:
-
Pada sensor digital, output HIGH menandakan adanya objek, sedangkan output LOW menandakan tidak ada objek.
-
Pada sensor analog, tegangan output berubah secara proporsional terhadap intensitas sinar pantulan (semakin dekat objek, semakin tinggi tegangannya).
Sinyal tersebut dapat dibaca oleh mikrokontroler seperti Arduino, Raspberry Pi, atau sistem kontrol lainnya untuk memicu aksi tertentu — misalnya menyalakan motor, buzzer, atau lampu indikator.
LDR Sensor
LDR (Light Dependent Resistor) atau fotoresistor adalah salah satu jenis sensor cahaya yang nilai resistansinya berubah sesuai dengan intensitas cahaya yang diterimanya.
- Ketika cahaya terang (siang hari) → resistansi LDR menurun.
- Ketika gelap (malam hari) → resistansi LDR meningkat.
Prinsip kerja LDR didasarkan pada efek fotokonduktivitas — yaitu kemampuan material semikonduktor untuk mengubah resistansi listriknya saat terkena cahaya.
- Saat terkena cahaya:
Foton dari cahaya memberikan energi kepada elektron di dalam bahan semikonduktor (biasanya kadmium sulfida, CdS), sehingga elektron bebas berpindah dari pita valensi ke pita konduksi.
Akibatnya, jumlah elektron konduksi meningkat, dan resistansi turun drastis. - Saat gelap:
Tidak ada energi foton yang cukup untuk menggerakkan elektron ke pita konduksi, sehingga resistansi menjadi sangat tinggi (puluhan kilo-ohm hingga mega-ohm)
Relay adalah suatu peranti yang bekerja berdasarkan elektromagnetik untuk menggerakan sejumlah kontaktor yang tersusun atau sebuah saklar elektronis yang dapat dikendalikan dari rangkaian elektronik lainnya dengan memanfaatkan tenaga listrik sebagai sumber energinya. Kontaktor akan tertutup (menyala) atau terbuka (mati) karena efek induksi magnet yang dihasilkan kumparan (induktor) ketika dialiri arus listrik. Berbeda dengan saklar, pergerakan kontaktor (on atau off) dilakukan manual tanpa perlu arus listrik.
Kapasitas Pengalihan Maksimum:
Resistor
Ie = Ic + Ib
Keterangan :
Ie = Arus Emitter
Ic = Arus Collector
Ib = Arus Basis
Keterangan :
Ie = Arus Emitter
Ic = Arus Collector
Kedua rangkaian Op-Amp pada gambar, baik yang terhubung ke Sensor cahaya maupun ke Sensor kelembaban tanah, beroperasi sebagai komparator tegangan.
Cara Kerja
Komparator adalah rangkaian Op-Amp yang membandingkan dua tegangan input dan menghasilkan output yang bergantung pada input mana yang lebih besar.
Jika tegangan input non-pembalik (Vref) lebih besar dari tegangan input pembalik (Vs-), output Op-Amp akan menjadi tinggi (mendekati Vcc atau logika 1).
Jika tegangan input non-pembalik ($V_+$) lebih kecil dari tegangan input pembalik ($V_-$), output Op-Amp akan menjadi rendah (mendekati $V_{ee}$ atau logika 0).
Rangkaian Sensor Cahaya
Op-Amp ini membandingkan tegangan dari Sensor Cahaya (LDR) (yang terhubung ke salah satu input) dengan tegangan referensi $V_{Ref}$ (yang terhubung ke input lainnya).
Output-nya digunakan untuk mengontrol logika waktu siang/malam.
Rangkaian Sensor Kelembaban Tanah
Op-Amp ini membandingkan tegangan dari Sensor Kelembaban Tanah dengan tegangan referensi $V_{Ref}$.
Output-nya digunakan untuk mengaktifkan/menonaktifkan Pompa penyiram tanaman.
Seven segment merupakan bagian-bagian yang digunakan untuk menampilkan angka atau bilangan decimal. Seven segment tersebut terbagi menjadi 7 batang LED yang disusun membentuk angka 8 dengan menggunakan huruf a-f yang disebut DOT MATRIKS. Setiap segment ini terdiri dari 1 atau 2 LED (Light Emitting Dioda). Seven segment bisa menunjukan angka-angka desimal serta beberapa bentuk tertentu melalui gabungan aktif atau tidaknya LED penyususnan dalam seven segment.
Supaya memudahkan penggunaannnya biasanya memakai sebuah sebuah seven segment driver yang akan mengatur aktif atau tidaknya led-led dalam seven segment sesuai dengan inputan biner yang diberikan. Bentuk tampilan modern disusun sebagai metode 7 bagian atau dot matriks. Jenis tersebut sama dengan namanya, menggunakan sistem tujuh batang led yang dilapis membentuk angka 8 seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas. Huruf yang dilihatkan dalam gambar itu ditetapkan untuk menandai bagian-bagian tersebut.
Dengan menyalakan beberapa segmen yang sesuai, akan dapat diperagakan digit-digit dari 0 sampai 9, dan juga bentuk huruf A sampai F (dimodifikasi). Sinyal input dari switches tidak dapat langsung dikirimkan ke peraga 7 bagian, sehingga harus menggunakan decoder BCD (Binary Code Decimal) ke 7 segmen sebagai antar muka. Decoder tersebut terbentuk dari pintu-pintu akal yang masukannya berbetuk digit BCD dan keluarannya berupa saluran-saluran untuk mengemudikan tampilan 7 segmen.
Tabel Pengaktifan Seven Segment Display
1. Persiapan Komponen
Sebelum merakit, siapkan seluruh komponen utama berikut:
Modul IR (Infrared) modul siap-pakai: Vcc 5V, output digital.
LDR (Light Dependent Resistor) untuk deteksi otomatis .
- IC counter ( 74LS192 ) menghitung naik (increment) atau menghitung turun (decrement) tergantung sinyal yang diberikan pada pin kendalinya.
IC decoder BCD to 7-seg: 7448 Mengubah data biner (BCD) dari counter menjadi sinyal untuk menampilkan angka pada display 7-segmen.
2 × 7-segment common-anode atau common-cathode sesuai decoder
Resistor pembatas untuk segmen 7-seg (220–1kΩ sesuai kecerahan).
Op-amp ( LM741 ) untuk detektor noninverting / comparator.
Beberapa resistor (nilai 1k, 10k, 100k) dan trimpot (10k) untuk pengaturan ambang.
Dioda (1N4001) untuk flyback pada relay.
Transistor driver (jika relay membutuhkan arus besar).
Relay 5V (coil 5V), atau MOSFET jika mengendalikan lampu DC; jika lampu mains, gunakan relay kontak terisolasi dan pastikan keselamatan.
Kapasitor kecil (0.01–10µF) untuk filter catu daya dan debouncing.
Sumber daya 5V stabil (power supply / adaptor) mampu memberikan arus yang cukup
Breadboard, kabel jumper, soket IC (opsional), papan PCB jika mau permanen.
Multimeter, osiloskop (opsional), LED test, soldering iron & solder (jika PCB), pin headers.
Breadboard, kabel jumper
Multimeter, obeng kecil, tang potong
Soldering iron, flux, timah
PC + software skematik (mis. KiCad / Proteus / Eagle) untuk desain PCB (opsional)
Oscilloscope (jika ada untuk cek bentuk pulsa sensor)
2. Perancangan Skematik Rangkaian
Modul IR → Vcc 5V, GND.
Output modul IR (biasanya digital) → ke input logika/counter (pin clock).
Tambahkan kondensator 0.1µF dekat Vcc & GND modul untuk stabilisasi.
Jika modul memberikan sinyal analog/gangguan, pakai Schmitt trigger (74HC14) atau op-amp comparator untuk membersihkan sinyal. Tambahkan pull-up resistor (10k) jika output open-collector.
Gunakan IC counter yang menghasilkan BCD (mis. 4510/4512/74LS90/7490 tergantung). Dari gambar ada dua IC counter (satu untuk puluhan satuan).
Hubungkan output BCD (D0..D3) ke input 7448 (A,B,C,D) untuk tiap digit.
Clock counter: sambungkan dari output sensor IR (setiap deteksi = 1 pulsa). Jika sensor menghasilkan pulsa panjang, tambahkan pembentuk pulsa (monostable 555 / RC + Schmitt) untuk menghasilkan satu pulsa per kejadian (debounce).
Reset/Enable: sambungkan sesuai kebutuhan — set pin reset ke HIGH/LOW sesuai logika agar counting berjalan. Sediakan tombol reset manual untuk pengujian.
Hubungkan D,B,C,A dari counter ke pin input 7448.
Keluarkan 7 output segmen ke masing-masing segmen 7-segment (periksa pinout 7448/datasheet).
Pasang resistor seri per segmen (220–470Ω).
Jika 2 digit, pastikan common supply (ANODE/CATHODE) dikonfigurasikan sesuai 7448. Jika multiplexing diperlukan (bila hanya satu 7448 dan multiplex dua digit), butuh driver tambahan — tapi gambar menunjukkan 2 decoder sehingga per digit dedicated.
Rangkaian op-amp sebagai non-inverting detector: LDR dan resistor membentuk pembagi tegangan ke input noninverting (+). Input inverting (−) terhubung ke referensi (trimpot) untuk ambang.
Output op-amp → transistor driver → relay coil → kontak relay → lampu.
Tambahkan dioda flyback (1N400x) paralel dengan coil relay (kathode ke Vcc).
Jika op-amp tidak mampu drive relay langsung, gunakan transistor (mis. NPN) sebagai switch. Pasang resistor basis 4.7k–10k.
Tambahkan LED indikator dengan resistor 1k di output relay/transistor untuk debug.
Vcc 5V → catu daya utama.
IR module out → shaping → CLOCK (counter).
Counter outputs (BCD) → 7448 → 7seg displays.
LDR divider → op-amp comparator → transistor → relay → lampu.
Reset button & power decoupling caps.
3. Perakitan Rangkaian di Breadboard / PCB
Siapkan sumber 5V stabil. Sambungkan rail +5V dan GND pada breadboard. Pasang kapasitor 100µF dekat supply dan 0.1µF dekat IC.
Pasang soket IC untuk semua IC.
Pasang modul IR pada sudut breadboard. Sambungkan Vcc & GND.
Hubungkan output modul ke jalur input (beri LED test lewat resistor untuk melihat pulsa).
Pasang LDR dan resistor pembagi di breadboard. Gunakan trimpot untuk ambang referensi.
Jika modul menghasilkan pulsa tak stabil, gunakan 1 shot monostable (IC 555) atau Schmitt trigger: output IR → RC low-pass + Schmidt → single clean pulse ke clock. Atau gunakan kondensator kecil + diode untuk shorten pulse.
Hubungkan output pembentuk pulsa ke pin clock counter.
Pasang IC counter, hubungkan Vcc/GND ke pin yang benar. Sambungkan pin clock ke output pembentuk pulsa.
Hubungkan output BCD ke input 7448.
Pasang IC 7448, sambungkan pin segment out ke 7-segment via resistor.
Pastikan common anode/cathode terhubung benar ke Vcc/GND sesuai jenis 7seg & 7448.
Pasang op-amp (LM358 dual). Susun pembagi LDR ke noninverting; trimpot ke invert. Uji output comparator (HIGH/LOW) saat LDR tertutup/terang.
Output op-amp → resistor basis → NPN transistor (mis. 2N2222). Emitor ke GND, kolektor ke salah satu ujung relay coil. Relay coil lain ke +5V. Pasang dioda flyback di relay.
Uji relay berdengung saat kondisi gelap/terang sesuai skema.
Tambah tombol reset ke pin reset counter dengan pull-up/pull-down sesuai IC.
Tambahkan LED indikator untuk power, untuk output sensor, dan untuk status relay.
4. Pengujian Rangkaian
Cek kontinuitas dan polaritas catu daya. Hidupkan catu daya tanpa IC dulu dan ukur 5V stabil.
Pasang IC satu-per-satu dan periksa tegangan Vcc & GND di pin IC (jangan biarkan IC panas).
Cek output modul IR: arahkan tangan atau objek, lihat LED/voltmeter; harus ada perubahan logika.
Periksa pembentuk pulsa: gunakan multimeter atau osiloscope, cek bentuk pulsa (duty harus pendek, tepi bersih).
Kirim pulsa manual ke clock (gunakan jumper untuk ground-to-pulse atau tombol) — pastikan counter bertambah 0→1→2… dan 7-segment menampilkan digit yang benar.
Uji rollover (mis. 9→0, dan digit puluhan bertambah bila ada cascade carry). Cek pin carry atau koneksi ripple carry antar IC counter.
Cek reset: tekan tombol reset, semuanya kembali 0.
Uji LDR: ubah cahaya (senter/tutup), lihat output op-amp; relay harus beroperasi pada ambang. Jika tidak, ubah trimpot.
Uji transistor: ukur tegangan basis, kolektor saat output berubah. Periksa dioda flyback tidak terbakar.
Setelah relay bekerja tanpa beban, sambungkan lampu (atau lampu tes 12V/AC tergantung), pastikan kontak relay benar.
Lakukan beberapa kejadian sensor IR: objek lewat → counter bertambah → display menunjukkan angka → bila ada fungsi lampu otomatis (mis. menyalakan lampu saat ada objek), cek hubungan logika.
Amati stabilitas: apakah ada pulsa ganda? Jika iya, tambahkan debouncing/delay atau gunakan monostable 1 shot.
5. Penyempurnaan dan Kalibrasi
Jika counter melompat lebih dari 1 per kejadian: perpendek/rapikan pulsa sensor (gunakan RC + Schmitt or 555 one-shot). Atau tambahkan small RC (e.g., 10k + 0.01µF) + schmitt input.
Tambahkan capacitor 0.01–0.1µF dari Vcc ke GND dekat setiap IC.
Gunakan trimpot pada rangkaian referensi untuk mengatur ambang nyala/mati lampu.
Uji di kondisi real (siang/gelap) dan catat nilai optimum.
Jika terjadi flapping (relay cepat on/off), tambahkan histeresis pada comparator (feedback resistor) sehingga ada rentang aman antara on/off.
Jika terlalu redup/terlalu terang, ubah resistor seri segmen (220Ω–1kΩ).
Jika ada ghosting atau flicker di 2 digit, pastikan masing-masing digit diberi driver terpisah atau lakukan multiplexing dengan waktu cukup singkat dan sink/source kuat.
Tambahkan fuse pada jalur catu daya jika beban besar.
Gunakan regulator tegangan (7805) untuk kestabilan jika gunakan adaptor AC→DC.
Jika rangkaian akan dipasang permanen, desain PCB, gunakan ground plane, dan jalur daya tebal.
Rangkaian Sistem Kontrol Kandang Ayam ini bekerja secara otomatis untuk mendeteksi aktivitas makan ayam dan mengatur pencahayaan di dalam kandang. Sensor infrared (IR) berfungsi sebagai pendeteksi keberadaan ayam di dekat tempat makan. Sensor ini memancarkan sinar inframerah yang akan dipantulkan oleh tubuh ayam ketika berada di depan sensor. Pantulan tersebut diterima kembali oleh photodiode, sehingga output sensor IR akan berubah menjadi logika tinggi. Sinyal ini masuk ke IC counter 74192, yang berfungsi menghitung setiap kali ayam mendekati tempat makan. Hasil hitungan kemudian diteruskan ke IC 7448 untuk dikonversi menjadi tampilan angka pada seven segment display, sehingga pengguna dapat melihat berapa kali ayam makan dalam periode tertentu.
Sementara itu, bagian bawah rangkaian berfungsi untuk mengatur pencahayaan kandang secara otomatis menggunakan sensor LDR (Light Dependent Resistor). Sensor LDR akan mendeteksi intensitas cahaya di sekitar kandang: jika pencahayaan cukup terang, resistansi LDR rendah, namun saat kondisi gelap resistansinya meningkat. Perubahan tegangan dari LDR ini masuk ke op-amp 741 (U7) yang dikonfigurasi sebagai detektor non-inverting comparator. Op-amp akan membandingkan tegangan dari LDR dengan tegangan referensi yang diatur melalui potensiometer RV5. Jika cahaya di kandang kurang, output dari op-amp akan menjadi logika tinggi.
Sinyal dari op-amp 741 kemudian digabung dengan sinyal dari sensor IR menggunakan gerbang logika OR (U1). Artinya, jika ayam terdeteksi sedang makan atau kondisi kandang sedang gelap, maka output dari gerbang OR akan aktif (logika 1). Output ini akan mengaktifkan transistor 2N1711 (Q1) yang disusun dengan bias tetap (fixed bias). Saat transistor aktif, arus akan mengalir menuju relay RL3, yang bertindak sebagai saklar elektronik untuk menyalakan lampu 12V (L2). Dengan demikian, lampu kandang akan menyala otomatis ketika ayam beraktivitas di tempat makan atau ketika pencahayaan di kandang tidak mencukupi.
Ketika ayam menjauh dari sensor IR dan kondisi kandang sudah cukup terang, kedua sinyal input ke gerbang OR menjadi logika rendah, transistor mati, relay terputus, dan lampu kandang padam. Sistem ini membuat pengawasan ayam menjadi lebih efisien tanpa intervensi manual.
Sensor Infrared (IR) mulai memancarkan sinar inframerah untuk mendeteksi keberadaan objek (misalnya manusia atau benda) yang lewat di depan sensor.
Apakah objek terdeteksi?
Sistem melakukan pengecekan apakah sinyal pantulan inframerah dari objek diterima oleh sensor penerima (fotodioda atau fototransistor).
Jika tidak terdeteksi (Tidak): sistem kembali memantau sampai ada objek lewat.
Jika terdeteksi (Ya): lanjut ke proses berikutnya.
Ketika objek terdeteksi, sensor IR menghasilkan sinyal logika (pulsa digital) yang dikirim ke IC Counter (misalnya 74LS192) untuk menandakan satu hitungan baru.
IC Counter menerima pulsa dari sensor IR, lalu menambahkan satu angka pada nilai penghitung sebelumnya (contohnya dari 0 → 1, 1 → 2, dan seterusnya).
Data biner (Binary Coded Decimal) dari IC Counter kemudian dikirim ke IC Decoder 7448, yang berfungsi mengubah data biner tersebut menjadi format tampilan 7-Segment Display.
Nilai hasil perhitungan dari counter ditampilkan pada 7-segment, sehingga pengguna dapat melihat jumlah objek yang telah melewati sensor IR.
Sensor LDR membaca intensitas cahaya lingkungan
Sensor LDR (Light Dependent Resistor) kemudian membaca tingkat kecerahan cahaya di sekitar.
Jika cahaya rendah (gelap), maka resistansi LDR tinggi.
Jika cahaya tinggi (terang), maka resistansinya rendah.
Keputusan berdasarkan pembacaan sensor LDR:
Jika gelap:
Output op-amp menjadi HIGH, sehingga transistor ON dan lampu HIDUP.
(Artinya sistem menyalakan lampu otomatis ketika malam atau ruangan gelap.)Jika terang:
Output op-amp menjadi LOW, transistor OFF, dan lampu MATI.
(Lampu tidak menyala karena pencahayaan cukup.)
Download Rangkaian klik disini
Download Video Demo klik disini
Download Datasheet Gerbang OR klik disini
Download Datasheet Sensor IR klik disini
Download Datasheet Sensor LDR klik disini
Download Datasheet IC 74LS192 klik
1. Pendahuluan [Kembali]
2. Tujuan [Kembali]
- Membuat sistem kontrol kandang ayam otomatis menggunakan sensor inframerah dan sensor LDR.
- Menghitung jumlah ayam yang masuk dan keluar kandang secara digital menggunakan rangkaian counter.
- Mengontrol kondisi pencahayaan dalam kandang secara otomatis berdasarkan intensitas cahaya.
3. Alat dan Bahan [Kembali]
Bahan :
1. Sensor Infrared
Gambar Sensor IR
- Function: Decoder, Demultiplexer
- Technology Family: LS
- VCC (Min): 4.75V
- VCC (Max): 5.25V
- Channels: 1
- Voltage (Nom): 5V
- Max Frequency at normal Voltage: 35Mhz
- tpd at normal Voltage (Max): 100 nsec
- Configuration: 4:7
- Type: Open-Collector
- IOL (Max): 3.2mA
- IOH (Max): -0.05mA
- Rating: Catalog
- Operating temperature range (C): 0 to 70
- Bits (#): 7
- Digital input leakage (Max): 5uA
- ESD CDM (kV): 0.75
- ESD HBM (kV): 2
- Available in two modes Common Cathode (CC) and Common Anode (CA)
- Available in many different sizes like 9.14mm,14.20mm,20.40mm,38.10mm,57.0mm and 100mm (Commonly used/available size is 14.20mm)
- Available colours: White, Blue, Red, Yellow and Green (Res is commonly used)
- Low current operation
- Better, brighter and larger display than conventional LCD displays.
- Current consumption : 30mA / segment
- Peak current : 70mA
Sensor IR (Infrared Sensor)
Sensor IR (Infrared) adalah sensor yang bekerja dengan menggunakan sinar inframerah untuk mendeteksi keberadaan atau jarak suatu objek. Sensor ini banyak digunakan dalam berbagai sistem otomatisasi karena kemampuannya mendeteksi benda tanpa kontak langsung.
Sensor infrared (IR) merupakan komponen elektronik yang berfungsi untuk mendeteksi keberadaan suatu objek dengan memanfaatkan prinsip kerja pemantulan sinar inframerah. Sensor ini terdiri dari dua bagian utama, yaitu LED inframerah sebagai pemancar dan photodiode atau phototransistor sebagai penerima. Ketika tidak ada objek di depan sensor, sinar inframerah yang dipancarkan tidak akan mengenai penerima sehingga output sensor berada pada kondisi rendah (LOW). Sebaliknya, jika terdapat objek seperti ayam yang melintas di depan sensor, sinar inframerah akan dipantulkan kembali ke penerima dan menyebabkan output sensor berubah menjadi tinggi (HIGH). Perubahan tegangan inilah yang kemudian dijadikan sinyal digital untuk dikirim ke rangkaian berikutnya.
Dalam sistem kontrol kandang ayam, sensor IR berfungsi sebagai penghitung jumlah ayam yang masuk atau keluar kandang. Saat ayam melewati sensor, pancaran inframerah terhalang sehingga sensor menghasilkan sinyal logika yang diteruskan ke rangkaian counter. Counter kemudian menambah atau mengurangi hitungan sesuai arah pergerakan ayam, dan hasilnya ditampilkan pada display 7-segmen. Dengan demikian, peternak dapat mengetahui jumlah ayam di dalam kandang secara otomatis tanpa perlu menghitung secara manual. Selain sebagai penghitung, sensor IR juga dapat digunakan untuk mengaktifkan sistem lain seperti lampu otomatis atau pintu kandang. Cara kerja ini membuat sensor IR sangat bermanfaat dalam sistem otomatisasi karena mampu mendeteksi objek dengan cepat, akurat, dan tanpa kontak langsung.
Prinsip Kerja
Sensor IR terdiri dari dua komponen utama, yaitu:
-
LED Inframerah (IR Transmitter) – berfungsi memancarkan sinar inframerah yang tidak terlihat oleh mata manusia.
-
Fotodioda atau Fototransistor (IR Receiver) – berfungsi menerima pantulan sinar inframerah dari objek di depan sensor.
Prinsip kerjanya didasarkan pada pemantulan sinar inframerah:
-
Ketika tidak ada objek di depan sensor, sinar IR tidak akan terpantul ke penerima, sehingga sensor menghasilkan sinyal LOW (0).
-
Ketika ada objek di depan sensor, sinar IR akan dipantulkan kembali ke penerima, menyebabkan sensor menghasilkan sinyal HIGH (1).
Dengan demikian, perubahan kondisi pantulan sinar IR menjadi dasar dalam mendeteksi keberadaan, jarak, atau warna permukaan suatu benda.
Cara Menghasilkan Sinyal
Sensor IR menghasilkan sinyal digital (HIGH/LOW) atau sinyal analog, tergantung jenis sensornya:
-
Pada sensor digital, output HIGH menandakan adanya objek, sedangkan output LOW menandakan tidak ada objek.
-
Pada sensor analog, tegangan output berubah secara proporsional terhadap intensitas sinar pantulan (semakin dekat objek, semakin tinggi tegangannya).
Sinyal tersebut dapat dibaca oleh mikrokontroler seperti Arduino, Raspberry Pi, atau sistem kontrol lainnya untuk memicu aksi tertentu — misalnya menyalakan motor, buzzer, atau lampu indikator.
LDR Sensor
LDR (Light Dependent Resistor) atau fotoresistor adalah salah satu jenis sensor cahaya yang nilai resistansinya berubah sesuai dengan intensitas cahaya yang diterimanya.
- Ketika cahaya terang (siang hari) → resistansi LDR menurun.
- Ketika gelap (malam hari) → resistansi LDR meningkat.
Prinsip kerja LDR didasarkan pada efek fotokonduktivitas — yaitu kemampuan material semikonduktor untuk mengubah resistansi listriknya saat terkena cahaya.
- Saat terkena cahaya:
Foton dari cahaya memberikan energi kepada elektron di dalam bahan semikonduktor (biasanya kadmium sulfida, CdS), sehingga elektron bebas berpindah dari pita valensi ke pita konduksi.
Akibatnya, jumlah elektron konduksi meningkat, dan resistansi turun drastis. - Saat gelap:
Tidak ada energi foton yang cukup untuk menggerakkan elektron ke pita konduksi, sehingga resistansi menjadi sangat tinggi (puluhan kilo-ohm hingga mega-ohm)
Relay adalah suatu peranti yang bekerja berdasarkan elektromagnetik untuk menggerakan sejumlah kontaktor yang tersusun atau sebuah saklar elektronis yang dapat dikendalikan dari rangkaian elektronik lainnya dengan memanfaatkan tenaga listrik sebagai sumber energinya. Kontaktor akan tertutup (menyala) atau terbuka (mati) karena efek induksi magnet yang dihasilkan kumparan (induktor) ketika dialiri arus listrik. Berbeda dengan saklar, pergerakan kontaktor (on atau off) dilakukan manual tanpa perlu arus listrik.
Kapasitas Pengalihan Maksimum:
Resistor
Ie = Ic + Ib
Keterangan :
Ie = Arus Emitter
Ic = Arus Collector
Ib = Arus Basis
Keterangan :
Ie = Arus Emitter
Ic = Arus Collector
Kedua rangkaian Op-Amp pada gambar, baik yang terhubung ke Sensor cahaya maupun ke Sensor kelembaban tanah, beroperasi sebagai komparator tegangan.
Cara Kerja
Komparator adalah rangkaian Op-Amp yang membandingkan dua tegangan input dan menghasilkan output yang bergantung pada input mana yang lebih besar.
Jika tegangan input non-pembalik (Vref) lebih besar dari tegangan input pembalik (Vs-), output Op-Amp akan menjadi tinggi (mendekati Vcc atau logika 1).
Jika tegangan input non-pembalik ($V_+$) lebih kecil dari tegangan input pembalik ($V_-$), output Op-Amp akan menjadi rendah (mendekati $V_{ee}$ atau logika 0).
Rangkaian Sensor Cahaya
Op-Amp ini membandingkan tegangan dari Sensor Cahaya (LDR) (yang terhubung ke salah satu input) dengan tegangan referensi $V_{Ref}$ (yang terhubung ke input lainnya).
Output-nya digunakan untuk mengontrol logika waktu siang/malam.
Rangkaian Sensor Kelembaban Tanah
Op-Amp ini membandingkan tegangan dari Sensor Kelembaban Tanah dengan tegangan referensi $V_{Ref}$.
Output-nya digunakan untuk mengaktifkan/menonaktifkan Pompa penyiram tanaman.
Seven segment merupakan bagian-bagian yang digunakan untuk menampilkan angka atau bilangan decimal. Seven segment tersebut terbagi menjadi 7 batang LED yang disusun membentuk angka 8 dengan menggunakan huruf a-f yang disebut DOT MATRIKS. Setiap segment ini terdiri dari 1 atau 2 LED (Light Emitting Dioda). Seven segment bisa menunjukan angka-angka desimal serta beberapa bentuk tertentu melalui gabungan aktif atau tidaknya LED penyususnan dalam seven segment.
Supaya memudahkan penggunaannnya biasanya memakai sebuah sebuah seven segment driver yang akan mengatur aktif atau tidaknya led-led dalam seven segment sesuai dengan inputan biner yang diberikan. Bentuk tampilan modern disusun sebagai metode 7 bagian atau dot matriks. Jenis tersebut sama dengan namanya, menggunakan sistem tujuh batang led yang dilapis membentuk angka 8 seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas. Huruf yang dilihatkan dalam gambar itu ditetapkan untuk menandai bagian-bagian tersebut.
Dengan menyalakan beberapa segmen yang sesuai, akan dapat diperagakan digit-digit dari 0 sampai 9, dan juga bentuk huruf A sampai F (dimodifikasi). Sinyal input dari switches tidak dapat langsung dikirimkan ke peraga 7 bagian, sehingga harus menggunakan decoder BCD (Binary Code Decimal) ke 7 segmen sebagai antar muka. Decoder tersebut terbentuk dari pintu-pintu akal yang masukannya berbetuk digit BCD dan keluarannya berupa saluran-saluran untuk mengemudikan tampilan 7 segmen.
Tabel Pengaktifan Seven Segment Display
1. Persiapan Komponen
Sebelum merakit, siapkan seluruh komponen utama berikut:
Modul IR (Infrared) modul siap-pakai: Vcc 5V, output digital.
LDR (Light Dependent Resistor) untuk deteksi otomatis .
- IC counter ( 74LS192 ) menghitung naik (increment) atau menghitung turun (decrement) tergantung sinyal yang diberikan pada pin kendalinya.
IC decoder BCD to 7-seg: 7448 Mengubah data biner (BCD) dari counter menjadi sinyal untuk menampilkan angka pada display 7-segmen.
2 × 7-segment common-anode atau common-cathode sesuai decoder
Resistor pembatas untuk segmen 7-seg (220–1kΩ sesuai kecerahan).
Op-amp ( LM741 ) untuk detektor noninverting / comparator.
Beberapa resistor (nilai 1k, 10k, 100k) dan trimpot (10k) untuk pengaturan ambang.
Dioda (1N4001) untuk flyback pada relay.
Transistor driver (jika relay membutuhkan arus besar).
Relay 5V (coil 5V), atau MOSFET jika mengendalikan lampu DC; jika lampu mains, gunakan relay kontak terisolasi dan pastikan keselamatan.
Kapasitor kecil (0.01–10µF) untuk filter catu daya dan debouncing.
Sumber daya 5V stabil (power supply / adaptor) mampu memberikan arus yang cukup
Breadboard, kabel jumper, soket IC (opsional), papan PCB jika mau permanen.
Multimeter, osiloskop (opsional), LED test, soldering iron & solder (jika PCB), pin headers.
Breadboard, kabel jumper
Multimeter, obeng kecil, tang potong
Soldering iron, flux, timah
PC + software skematik (mis. KiCad / Proteus / Eagle) untuk desain PCB (opsional)
Oscilloscope (jika ada untuk cek bentuk pulsa sensor)
2. Perancangan Skematik Rangkaian
Modul IR → Vcc 5V, GND.
Output modul IR (biasanya digital) → ke input logika/counter (pin clock).
Tambahkan kondensator 0.1µF dekat Vcc & GND modul untuk stabilisasi.
Jika modul memberikan sinyal analog/gangguan, pakai Schmitt trigger (74HC14) atau op-amp comparator untuk membersihkan sinyal. Tambahkan pull-up resistor (10k) jika output open-collector.
Gunakan IC counter yang menghasilkan BCD (mis. 4510/4512/74LS90/7490 tergantung). Dari gambar ada dua IC counter (satu untuk puluhan satuan).
Hubungkan output BCD (D0..D3) ke input 7448 (A,B,C,D) untuk tiap digit.
Clock counter: sambungkan dari output sensor IR (setiap deteksi = 1 pulsa). Jika sensor menghasilkan pulsa panjang, tambahkan pembentuk pulsa (monostable 555 / RC + Schmitt) untuk menghasilkan satu pulsa per kejadian (debounce).
Reset/Enable: sambungkan sesuai kebutuhan — set pin reset ke HIGH/LOW sesuai logika agar counting berjalan. Sediakan tombol reset manual untuk pengujian.
Hubungkan D,B,C,A dari counter ke pin input 7448.
Keluarkan 7 output segmen ke masing-masing segmen 7-segment (periksa pinout 7448/datasheet).
Pasang resistor seri per segmen (220–470Ω).
Jika 2 digit, pastikan common supply (ANODE/CATHODE) dikonfigurasikan sesuai 7448. Jika multiplexing diperlukan (bila hanya satu 7448 dan multiplex dua digit), butuh driver tambahan — tapi gambar menunjukkan 2 decoder sehingga per digit dedicated.
Rangkaian op-amp sebagai non-inverting detector: LDR dan resistor membentuk pembagi tegangan ke input noninverting (+). Input inverting (−) terhubung ke referensi (trimpot) untuk ambang.
Output op-amp → transistor driver → relay coil → kontak relay → lampu.
Tambahkan dioda flyback (1N400x) paralel dengan coil relay (kathode ke Vcc).
Jika op-amp tidak mampu drive relay langsung, gunakan transistor (mis. NPN) sebagai switch. Pasang resistor basis 4.7k–10k.
Tambahkan LED indikator dengan resistor 1k di output relay/transistor untuk debug.
Vcc 5V → catu daya utama.
IR module out → shaping → CLOCK (counter).
Counter outputs (BCD) → 7448 → 7seg displays.
LDR divider → op-amp comparator → transistor → relay → lampu.
Reset button & power decoupling caps.
3. Perakitan Rangkaian di Breadboard / PCB
Siapkan sumber 5V stabil. Sambungkan rail +5V dan GND pada breadboard. Pasang kapasitor 100µF dekat supply dan 0.1µF dekat IC.
Pasang soket IC untuk semua IC.
Pasang modul IR pada sudut breadboard. Sambungkan Vcc & GND.
Hubungkan output modul ke jalur input (beri LED test lewat resistor untuk melihat pulsa).
Pasang LDR dan resistor pembagi di breadboard. Gunakan trimpot untuk ambang referensi.
Jika modul menghasilkan pulsa tak stabil, gunakan 1 shot monostable (IC 555) atau Schmitt trigger: output IR → RC low-pass + Schmidt → single clean pulse ke clock. Atau gunakan kondensator kecil + diode untuk shorten pulse.
Hubungkan output pembentuk pulsa ke pin clock counter.
Pasang IC counter, hubungkan Vcc/GND ke pin yang benar. Sambungkan pin clock ke output pembentuk pulsa.
Hubungkan output BCD ke input 7448.
Pasang IC 7448, sambungkan pin segment out ke 7-segment via resistor.
Pastikan common anode/cathode terhubung benar ke Vcc/GND sesuai jenis 7seg & 7448.
Pasang op-amp (LM358 dual). Susun pembagi LDR ke noninverting; trimpot ke invert. Uji output comparator (HIGH/LOW) saat LDR tertutup/terang.
Output op-amp → resistor basis → NPN transistor (mis. 2N2222). Emitor ke GND, kolektor ke salah satu ujung relay coil. Relay coil lain ke +5V. Pasang dioda flyback di relay.
Uji relay berdengung saat kondisi gelap/terang sesuai skema.
Tambah tombol reset ke pin reset counter dengan pull-up/pull-down sesuai IC.
Tambahkan LED indikator untuk power, untuk output sensor, dan untuk status relay.
4. Pengujian Rangkaian
Cek kontinuitas dan polaritas catu daya. Hidupkan catu daya tanpa IC dulu dan ukur 5V stabil.
Pasang IC satu-per-satu dan periksa tegangan Vcc & GND di pin IC (jangan biarkan IC panas).
Cek output modul IR: arahkan tangan atau objek, lihat LED/voltmeter; harus ada perubahan logika.
Periksa pembentuk pulsa: gunakan multimeter atau osiloscope, cek bentuk pulsa (duty harus pendek, tepi bersih).
Kirim pulsa manual ke clock (gunakan jumper untuk ground-to-pulse atau tombol) — pastikan counter bertambah 0→1→2… dan 7-segment menampilkan digit yang benar.
Uji rollover (mis. 9→0, dan digit puluhan bertambah bila ada cascade carry). Cek pin carry atau koneksi ripple carry antar IC counter.
Cek reset: tekan tombol reset, semuanya kembali 0.
Uji LDR: ubah cahaya (senter/tutup), lihat output op-amp; relay harus beroperasi pada ambang. Jika tidak, ubah trimpot.
Uji transistor: ukur tegangan basis, kolektor saat output berubah. Periksa dioda flyback tidak terbakar.
Setelah relay bekerja tanpa beban, sambungkan lampu (atau lampu tes 12V/AC tergantung), pastikan kontak relay benar.
Lakukan beberapa kejadian sensor IR: objek lewat → counter bertambah → display menunjukkan angka → bila ada fungsi lampu otomatis (mis. menyalakan lampu saat ada objek), cek hubungan logika.
Amati stabilitas: apakah ada pulsa ganda? Jika iya, tambahkan debouncing/delay atau gunakan monostable 1 shot.
5. Penyempurnaan dan Kalibrasi
Jika counter melompat lebih dari 1 per kejadian: perpendek/rapikan pulsa sensor (gunakan RC + Schmitt or 555 one-shot). Atau tambahkan small RC (e.g., 10k + 0.01µF) + schmitt input.
Tambahkan capacitor 0.01–0.1µF dari Vcc ke GND dekat setiap IC.
Gunakan trimpot pada rangkaian referensi untuk mengatur ambang nyala/mati lampu.
Uji di kondisi real (siang/gelap) dan catat nilai optimum.
Jika terjadi flapping (relay cepat on/off), tambahkan histeresis pada comparator (feedback resistor) sehingga ada rentang aman antara on/off.
Jika terlalu redup/terlalu terang, ubah resistor seri segmen (220Ω–1kΩ).
Jika ada ghosting atau flicker di 2 digit, pastikan masing-masing digit diberi driver terpisah atau lakukan multiplexing dengan waktu cukup singkat dan sink/source kuat.
Tambahkan fuse pada jalur catu daya jika beban besar.
Gunakan regulator tegangan (7805) untuk kestabilan jika gunakan adaptor AC→DC.
Jika rangkaian akan dipasang permanen, desain PCB, gunakan ground plane, dan jalur daya tebal.
Rangkaian Sistem Kontrol Kandang Ayam ini bekerja secara otomatis untuk mendeteksi aktivitas makan ayam dan mengatur pencahayaan di dalam kandang. Sensor infrared (IR) berfungsi sebagai pendeteksi keberadaan ayam di dekat tempat makan. Sensor ini memancarkan sinar inframerah yang akan dipantulkan oleh tubuh ayam ketika berada di depan sensor. Pantulan tersebut diterima kembali oleh photodiode, sehingga output sensor IR akan berubah menjadi logika tinggi. Sinyal ini masuk ke IC counter 74192, yang berfungsi menghitung setiap kali ayam mendekati tempat makan. Hasil hitungan kemudian diteruskan ke IC 7448 untuk dikonversi menjadi tampilan angka pada seven segment display, sehingga pengguna dapat melihat berapa kali ayam makan dalam periode tertentu.
Sementara itu, bagian bawah rangkaian berfungsi untuk mengatur pencahayaan kandang secara otomatis menggunakan sensor LDR (Light Dependent Resistor). Sensor LDR akan mendeteksi intensitas cahaya di sekitar kandang: jika pencahayaan cukup terang, resistansi LDR rendah, namun saat kondisi gelap resistansinya meningkat. Perubahan tegangan dari LDR ini masuk ke op-amp 741 (U7) yang dikonfigurasi sebagai detektor non-inverting comparator. Op-amp akan membandingkan tegangan dari LDR dengan tegangan referensi yang diatur melalui potensiometer RV5. Jika cahaya di kandang kurang, output dari op-amp akan menjadi logika tinggi.
Sinyal dari op-amp 741 kemudian digabung dengan sinyal dari sensor IR menggunakan gerbang logika OR (U1). Artinya, jika ayam terdeteksi sedang makan atau kondisi kandang sedang gelap, maka output dari gerbang OR akan aktif (logika 1). Output ini akan mengaktifkan transistor 2N1711 (Q1) yang disusun dengan bias tetap (fixed bias). Saat transistor aktif, arus akan mengalir menuju relay RL3, yang bertindak sebagai saklar elektronik untuk menyalakan lampu 12V (L2). Dengan demikian, lampu kandang akan menyala otomatis ketika ayam beraktivitas di tempat makan atau ketika pencahayaan di kandang tidak mencukupi.
Ketika ayam menjauh dari sensor IR dan kondisi kandang sudah cukup terang, kedua sinyal input ke gerbang OR menjadi logika rendah, transistor mati, relay terputus, dan lampu kandang padam. Sistem ini membuat pengawasan ayam menjadi lebih efisien tanpa intervensi manual.
Sensor Infrared (IR) mulai memancarkan sinar inframerah untuk mendeteksi keberadaan objek (misalnya manusia atau benda) yang lewat di depan sensor.
Apakah objek terdeteksi?
Sistem melakukan pengecekan apakah sinyal pantulan inframerah dari objek diterima oleh sensor penerima (fotodioda atau fototransistor).
Jika tidak terdeteksi (Tidak): sistem kembali memantau sampai ada objek lewat.
Jika terdeteksi (Ya): lanjut ke proses berikutnya.
Ketika objek terdeteksi, sensor IR menghasilkan sinyal logika (pulsa digital) yang dikirim ke IC Counter (misalnya 74LS192) untuk menandakan satu hitungan baru.
IC Counter menerima pulsa dari sensor IR, lalu menambahkan satu angka pada nilai penghitung sebelumnya (contohnya dari 0 → 1, 1 → 2, dan seterusnya).
Data biner (Binary Coded Decimal) dari IC Counter kemudian dikirim ke IC Decoder 7448, yang berfungsi mengubah data biner tersebut menjadi format tampilan 7-Segment Display.
Nilai hasil perhitungan dari counter ditampilkan pada 7-segment, sehingga pengguna dapat melihat jumlah objek yang telah melewati sensor IR.
Sensor LDR membaca intensitas cahaya lingkungan
Sensor LDR (Light Dependent Resistor) kemudian membaca tingkat kecerahan cahaya di sekitar.
Jika cahaya rendah (gelap), maka resistansi LDR tinggi.
Jika cahaya tinggi (terang), maka resistansinya rendah.
Keputusan berdasarkan pembacaan sensor LDR:
Jika gelap:
Output op-amp menjadi HIGH, sehingga transistor ON dan lampu HIDUP.
(Artinya sistem menyalakan lampu otomatis ketika malam atau ruangan gelap.)Jika terang:
Output op-amp menjadi LOW, transistor OFF, dan lampu MATI.
(Lampu tidak menyala karena pencahayaan cukup.)
Download Rangkaian klik disini
Download Video Demo klik disini
Download Datasheet Gerbang OR klik disini
Download Datasheet Sensor IR klik disini
Download Datasheet Sensor LDR klik disini
Download Datasheet IC 74LS192 klik disini
Download Datasheet IC 7448 klik disini
Download Datasheet Op Amp klik disini
Download Datasheet Potensiometer klik disini
Download Datasheet Transistor klik disini
Download Datasheet Dioda klik disini
Download Datasheet Relay klik disini
Download Datasheet Resistor klik disini
Download Datasheet 7 segment klik disini
Download Datasheet IC 7448 klik disini
Download Datasheet Op Amp klik disini
Download Datasheet Potensiometer klik disini
Download Datasheet Transistor klik disini
Download Datasheet Dioda klik disini
Download Datasheet Relay klik disini
Download Datasheet Resistor klik disini
Download Datasheet 7 segment klik disini
.jpg)
























Komentar
Posting Komentar